Tampilkan postingan dengan label MOTIVASI Puji VS Caci. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MOTIVASI Puji VS Caci. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Agustus 2012

HARAP MAKLUM


"…..Demikianlah surat pemberitahuan ini kami sampaikan, harap maklum apa adanya". 

Begitulah tulisan pada paragraph terakhir sebagai kata penutup di dalam surat edaran yang saya terima. Sebenarnya saya agak sedikit heran, kenapa institusi yang mengirimkan surat tersebut menulis kalimat seperti itu, apakah karena memang sudah menjadi standar baku sebuah tulisan dalam surat edaran, atau memang yang menulis tidak mau tahu-menahu lagi apakah para penerima surat mengerti atau tidak maksud isi surat tersebut. Tanpa mau berpikir rumit, saya tetap menempelkan surat edaran tersebut di dinding mushalla dekat pintu keluar, supaya jama'ah bisa melihat sewaktu mereka keluar-masuk.

Sebenarnya apa sich.. arti dari kata 'maklum'?. Saya pernah membaca beberapa literatur bahasa serapan, 'maklum' juga merupakan kata serapan dari Bahasa Arab. Asal kata -'alama-, artinya; tahu. Kalau dijadikan kalimat "majhul/pasif", maka susunan katanya jadi 'ma'lum', artinya 'diketahui'. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tertulis 'maklum' yang salah satu artinya 'diketahui'.

Dalam hidup ini memang ada kejadian seperti penggalan isi surat tadi. Adakalanya kita tidak mengetahui dengan maksud dan tujuan atau pesan yang ingin disampaikan orang terhadap kita, tapi kita diminta untuk 'maklum'. Memang lucu juga sich… dalam kondisi tidak tahu tapi dianggap tahu.

Minggu, 10 Juli 2011

Motivasi Setengah Hati – Sampai Mati, Maka Anda akan Merugi

Saat ini mungkin terlintas di pikiran kita bahwa semangat seseorang muncul saat dia mendapatkan pujian atau cacian. Namun jika kita memahami bahwa semangat hanya berkaitan dengan dua hal tersebut, maka sesungguhnya semangat yang kita miliki telah terbawa pada kondisi ketergantungan terhadap faktor dari luar diri (faktor eksternal). Jika kita memahaminya sebagai sumber motivasi utama maka sebenarnya kita belum memiliki motivasi yang sesungguhnya, saya memberi istilah ‘motivasi setengah hati’.

Kenapa demikian?

Selasa, 24 Mei 2011

Dipijat VS Memijat (Puji VS Caci)

Rata-rata di antara kita pernah melakukan pemijatan atau merasakan pijatan, dalam bahasa sederhana memijat dan dipijat. Mari kita tanyakan kepada hati kita yang paling dalam, “mana yang lebih kita sukai, Dipijat atau Memijat?”.

Saya yakin, sebagian besar dari kita lebih suka Dipijat. Kembali kita tanyakan pada diri kita, “Lebih senang Menerima atau Memberi?”. Tentulah kita lebih senang menerima sebagaimana dipijat. Diumpamakan pijatan itu adalah hadiah, pasti kita senang menerimanya, apalagi jika yang memberikan hadiah adalah orang yang kita harapkan.
Namun kembali saya melemparkan sebuah pertanyaan, “jika kita lebih senang menerima, bagaimanakah kiranya jika yang kita terima adalah dalam bentuk musibah atau masalah?”. Pasti tak ada satu orang pun yang mau memilih musibah atau masalah.